LAPORAN
PENDAHULUAN
ASKEP
PADA KLIEN DENGAN KANKER PAYUDARA
A.
Pengertian
Kanker
payudara adalah gangguan yang dapat mempengaruhi organ dalam tubuh ditandai
dengan oleh proliferasi sel abnormal jaringan epitel pada duktus lafiferis atau
lobulus pada payudara, membentuk massa yang padat, terbentuk tumor yang sering
disebut neoplasma. Neoplasma kemudian menyebar ke jaringan sekitar dan akhirnya
mempengaruhi fungsi normal.
B.
Etiologi
-
Tidak ada satupun penyebab spesifik dari kanker
payudara, sebaiknya serangkaian faktor genetik hormonal dan kejadian lingkungan
dapat menunjang terjadinya kanker. Bukti yang bermunculan menunjukkan bahwa
perubahan genetik berkaitan dengan kanker payudara, namun apa yang menyebabkan
perubahan belum diketahui.
-
Perubahan genetik ini termasuk perubahan/mutasi dalam
gen normal dan pengaruh protein baik yang menekan/meningkatkan perkembangan
kanker payudara.
-
Hormon yang dapat berpengaruh dalam kanker payudara
adalah normal hormon steroid yang dihasilkan ovarium (hormon estrodiol dan
hormon progesteron).
-
Meskipun belum ada penyebab spesifik dari kanker
payudara, para peneliti mengidentifikasi sekelompok faktor resiko sebagai
berikut :
1.
Riwayat pribadi tentang kanker payudara
Resiko mengalami kanker payudara pada payudara
sebelahnya meningkat hampir 1% tiap tahun.
2.
Anak perempuan/saudara perempuan (hubungan langsung
keluarga) dari wanita dengan kanker payudara.
Resikonya meningkat 2x lipat. Jika ibunya terkena
kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4-6 x. Jika kanker payudara
terjadi pada dua orang saudara langsung.
3.
Menarche dini, resiko meningkat pada wanita yang
mengalami menarche sebelum 12 tahun.
4.
Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak
pertama wanita yang hanya anak pertama, setelah usia 30 tahun mempunyai resiko
2 x lipat dibanding dengan mereka yang punya anak sebelum 20 tahun.
5.
Menopause pada usia lanjut (>50 tahun).
6.
Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai
tumor payudara di sekitar perubahan epitel prliferasi mempunyai resiko 2 x
lipat untuk mengalami kanker payudara.
7.
Pemajanan terhadap wanita setelah masa pubertas dan
sebelum usia 30 tahun.
8.
Obesitas, resiko terendah diantara wanita pasca
menopause.
9.
Kontrasepsi oral.
10.
Therapi pengganti hormon.
Terdapat laporan yang
membingungkan tentang resiko kanker payudara pada terapi pengganti hormon.
Wanita yang menggunakan estrogen suplemen dalam jangka panjang mengalami
peningkatan resiko. Sementara penambahan progesteron terhadap pengganti
estrogen meningkatkan insiden kanker endometrium. Hal ini tidak menurunkan
resiko kanker payudara.
11.
Masukan alkohol
Sedikit peningkatan
resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alkohol, bahkan hanya dengan
sekali minum dalam sehari. Resiko 2 x lipat diantara wanita yang minum
alkohol 3 x/sehari.
Temuan riset menunjukkan wanita muda
minum alkohol lebih rentan mengalami kanker payudara (Brunner & Suddarth,
Danielle Gale).
C.
Tahapan Kanker Payudara
Tahapan klinik yang
paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah sistem klasifikasi TNM yang mengevaluasi ukuran
tumor, nodus limfe yang terkena dan bukti adanya metastasis yang jauh. Sistem
TNM diadaptasi oleh The America Joint Committee on Cancer Staging and Resuid
Reformating. Pertahapan ini didasarkan pada fisiologi memberikan prognosis yang
lebih akurat, tahap-tahapnya adalah sebagai berikut :
Tahap I :
tumor kurang dari 2 cm, tidak mengalami
nodus
Tahap II : tumor
yang lebih besar dari 2 cm, kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe terfiksasi
negatif/positif. Tidak terdeteksi metastasis
Tahap III : tumor
> 5 cm atau tumor dengan sembarang tempat yang menginvasi kulit/dinding,
nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, tanpa bukti metastasit
Tahap IV : terdiri
atas tumor dalam sembarang ukuran dengan nodus limfe normal/kankerlosa dan
metastase janin
D.
Tipe Kanker Payudara
1.
Karsinoma duktal, menginfiltrasi.
Tipe paling umum (75%) bermetastasis di nodus axila, perognosa buruk.
2.
Karsinoma lobuler menginfiltrasi (5-10%)
Terjadi
penebalan pada salah satu/2 payudara bisa menyebar ke tulang, paru, hepar,
otak.
3.
Karsinoma medular (60%)
Tumor dalam capsul, dalam duktus, dapat jadi besar, tapi meluasnya
lambat.
4.
Kanker musinus (3%), menghasilkan lendir, tumbuh
lambat, prognosis lebih baik.
5.
Kanker duktus tubulen (2%)
6.
Karsinoma inflamatom (1-2%) : jarang terjadi, gejala
berbeda nyeri tekan dan sangat nyeri, payudara membesar dan keras, edema,
retraksi puting susu, cepat berkembang
(Brunner &
Suddart).
E.
Tanda dan Gejala Kanker Payudara
1.
Fase awal : asimtomatik
2.
Tanda umum : benjolan/penebalan pada payudara
3.
Tanda dan gejala lanjut : kulit cekung
-
Retraksi/deviasi puting susu
-
Nyeri tekan/raba
-
Kulit tebal dan pori-pori menonjol seperti kulit jeruk
-
Ulserasi pada payudara.
- Tanda metastase : nyeri pada bahu, pinggang, punggung bawah
-
Batuk menetap
-
Anoreksia
-
BB turun
-
Gangguan pencernaan
-
Kabur
-
Sakit kepala
F. Pemeriksaan Diagnostik
1.
Monografi
Menemukan kanker insito yang kecil yang tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik.
2.
SCAN (CT, MRI, galfum), ultra sound.
Untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, respon pengobatan
3.
Biopsi (aspirasi, eksisi)
Untuk diagnosis banding dan menggambarkan pengobatan
4.
Penanda tumor
Zat yang dihasilkan dan disekresi oleh dalam serum (alfa feto protein,
HCG asam fosfat).
-
Dapat menambah dalam mendiagnosis kanker tetapi lebih
bermanfaat sebagai prognosis/monitor terapeutik.
-
Reseptor estrogen/progesteron assay yang dilakukan pada
jaringan payudara untuk memberikan informasi tentang manipulasi hormonal.
- Tes skrining kimia : elektrolit, tes hepar, hitung sel darah.
- Foto toraks
- USG
G.
Pathways Kanker Payudara
H. Penatalaksanaan
Ada 3 kombinasi
-
Pembedahan
-
Kemoterapi
-
Radiasi
1.
Pembedahan
Biopsi biasanya jenis
pemebedahan pertama bagi seorang wanita dengan kanker payudara.
Tujuannya
adalah menentukan bila ada masa malignasi dan untuk mengetahui jenis kanker
payudara, ada 2 prosedur :
a.
Prosedur satu tahap
Anestesi umum dengan
potongan beku cepat, bila potongan memperlihatkan malignasi, ahli bedah
melakukan mastektomi.
b.
Prosedur 2 tahap : -
biopsi dengan anestesi lokal
-
klien dipulangkan
2.
Terapi Radiasi
Untuk
pengobatan tahap 1 & 2
Keuntungan
: kontrol tumor lokal/pemeliharaan payudara
Efek : Reaksi kulit
Fraktur tulang kosta
Pneumonitis
Limfodema
3.
Kemoterapi
a.
Cara pemberian obat sitostatika dapati dilakukan secara
:
1)
Per Oral (PO)
2)
Sub Cutan (SC)
3)
Intra Muskuler (IM)
4)
Intra Arteri (IA)
5)
Intra Vena (IV)
6)
Intra Thecal (lewat fs. lumbal)
7)
Intra peritongal (pleural)
b.
Pemilihan vena dan tempat penusukan
1)
Kemoterapi dapat membuat iritasi pada vena dan jaringan
lunak
2)
Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam (3 hari)
3)
Vena yang cocok untuk penusukan terasa halus, lembut,
cukup besar (jangan vena yang menonjol dan keras)
4)
Vena yang baik dan sering digunakan : basilic,
chepalic, metacarpal.
c.
Persiapan kemoterapi
1)
Ukur BB, TB, luas badan, darah lengkap, FS. Ginjal, Fs.
Liver, gula darah urine lengkap, EKG, Thorax Ap/lat, ECSW, BMP.
2)
Periksa program terapi yang digunakan, waktu pemberian
obat sebelumnya.
3)
Periksa nama klien, dosis obat, jenis obat, cara
pemberian obat.
4)
Periksa informed concent (klien dan keluarga)
5)
Siapkan obat sitostatika.
6)
Siapkan cairan Na (L 0,9%, MA 5% atau intralit)
7)
Pengalas plastik, kain
8)
Gaun lengan dengan panjang, masker, topi, kacamata,
sarung tangan, sepatu.
9)
Spuit dispossible 5cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.
10) Set
infus dan cateter kecil (ababat)
11) Alkohol
70% + kapasitas steril (suatu alkohol).
12) Bak
spuit besar
13) Lebel
obat
14) Pastik
(pembuang bekas)
15) Kardex
(catatan khusus)
d.
Cara kerja :
1)
Semua obat dicampur oleh staf farmasi (ahli), kemudian
ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup. Perawat menerima dengan
catatan : (nama klien, jenis obat, dosis obat dan jam pencampuran).
2)
Atau pencampuran dilakukan di ruang khusus tertutup.
-
Meja dialasi pengalas plastik dan kain.
-
Pakai gaun
lengan panjang, topi, masker, kacamata dan sepatu
-
Ambil obat sitostatika SSI program, larutkan dengan
NaCl 0,9%, Dextrose 5% atau intralit dan pastikan obat cukup.
-
Masukkan obat ke dalam flabot NaCl 0,9% atau dextrose
5%.
-
Jaga jangan sampai tumpah.
-
Buat label (nama klien, jenis obat, tanggal, jam
pemberian, akhir pemberian).
-
Masukkan dalam kontrinen yang telah disediakan
-
Masukkan sampai pada kantong khusus (plastik).
e.
Cara pemberian :
1)
Periksa : nama klien, jenis obat, dosis, banyaknya
cairan, cara pemberian, waktu pemberian.
2)
Pakai proteksi
3)
Lakukan teknik aseptik dan antiseptik
4)
Pasang pengalas dan kain.
5)
Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian kemoterapi
6)
Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9%
7)
Berikan obat kanker pelan-pelan.
8)
Bila selesai bilas dengan NaCl 0,9%.
9)
Semua alat habis pakai masuk kantong plastik.
10) Buka
kain proteksi, masukkan plastik.
11) Catat
semua prosedur.
12) Awasi
keadaan kline per ½ jam.
|
f.
Diagnosa keperawatan
1.
Nyeri berhubungan dengan pembedahan
Tanda : S : Trauma
pembedahan
O : nadi, respirasi, akpasi
wajah tegang, kesakitan.
Tujuan :
Meredakan nyeri.
Intervensi :
Kaji skalanya
-
Tinggikan lengan yang sakit dari siku (bahu)
-
Hindari pengukuran TD, infeksi, pengambilan darah di
daerah yang sakit.
-
Anjurkan latihan aktif dan pasif pada lengan sakit.
2.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi
pembedahan dan efek radiasi.
Tanda : S :
O : Pengangkatan jaringan
-
Neting ada
-
Perubahan elastisitas kulit
Tujuan :
Mempertahankan integritas kulit
Intervensi :
Observasi daerah operasi
-
Inspeksi jumlah perdarahan, warna kulit
-
Lakukan ganti balut tiap hari
-
Jelaskan pada klien sensasi menurun pada area operatif
-
Jelaskan pada klien tanda-tanda infeksi.
3.
Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan mastektomi dan
efek samping radiasi dan kemoterapi.
Terapi : S
: Klien
mengekspresikan perasaan malu/minder
O : Kehilangan payudara
-
Bentuk tubuh yang tidak bagus.
Intervensi : Berikan support pada klien
untuk melihat insisi pembedahan
-
Fasilitas sistem pendukung keluarga (pasangan/keluarga)
klien.
-
Jawab pertanyaan klien dan dampak yang diharapkan atas
gaya hidup.
-
Evaluasi perasaan klien mengenal hilangnya payudara
identitas seksual, hubungan citra tubuh.
-
Berikan kesempatan pada klien rasa berduka cita atas
kehilangan payudara.
-
Izinkan klien untuk mengungkapkan emusi negatif
(marah).
-
Anjurkan pada klien untuk komunikasi terbuka klien
dengan keluarga.
-
Anjurkan klien untuk mengunjungi klien lain yang
mempunyai penyakit yang sama, dengan kemampuan koping yang baik.
4.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan efek
kemoterapi, radiasi.
Tanda : S :
O : Mual, muntah
-
Adanya stomatitis, diare
-
Anoreksia, BB ¯
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi : Kaji riwayat BB dulu dan pemasukan makan
-
Diskusikan antara pemasukan dan penurunan BB
-
Berikan teknik untuk mengatasi mual
-
Observasi adanya distensi abdomen
-
Sajikan makanan sesuai selera klien.
-
Kolaborasi antiemetik.
DAFTAR PUSTAKA
Gale,
Danielle, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, Jakarta.
Brunner
& Suddart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8,
volume 2, Jakarta, EGC.
Doengoes,
(2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.
Price,
Anderson (1995), Patofisiologi Proses Penyakit, Edisi 4, Buku Kedua,
Jakarta, EGC.
Simposium
Keperawatan, (2003), Kemoterapi, Semarang.
LAPORAN
PENDAHULUAN
ASKEP
PADA KLIEN DENGAN KANKER PAYUDARA DI RSDK SEMARANG
A.
Pengertian
Kanker
payudara adalah gangguan yang dapat mempengaruhi organ dalam tubuh ditandai
dengan oleh proliferasi sel abnormal jaringan epitel pada duktus lafiferis atau
lobulus pada payudara, membentuk massa yang padat, terbentuk tumor yang sering
disebut neoplasma. Neoplasma kemudian menyebar ke jaringan sekitar dan akhirnya
mempengaruhi fungsi normal.
B.
Etiologi
-
Tidak ada satupun penyebab spesifik dari kanker
payudara, sebaiknya serangkaian faktor genetik hormonal dan kejadian lingkungan
dapat menunjang terjadinya kanker. Bukti yang bermunculan menunjukkan bahwa
perubahan genetik berkaitan dengan kanker payudara, namun apa yang menyebabkan
perubahan belum diketahui.
-
Perubahan genetik ini termasuk perubahan/mutasi dalam
gen normal dan pengaruh protein baik yang menekan/meningkatkan perkembangan
kanker payudara.
-
Hormon yang dapat berpengaruh dalam kanker payudara
adalah normal hormon steroid yang dihasilkan ovarium (hormon estrodiol dan
hormon progesteron).
-
Meskipun belum ada penyebab spesifik dari kanker
payudara, para peneliti mengidentifikasi sekelompok faktor resiko sebagai
berikut :
1.
Riwayat pribadi tentang kanker payudara
Resiko mengalami kanker payudara pada payudara
sebelahnya meningkat hampir 1% tiap tahun.
2.
Anak perempuan/saudara perempuan (hubungan langsung
keluarga) dari wanita dengan kanker payudara.
Resikonya meningkat 2x lipat. Jika ibunya terkena
kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4-6 x. Jika kanker payudara
terjadi pada dua orang saudara langsung.
3.
Menarche dini, resiko meningkat pada wanita yang
mengalami menarche sebelum 12 tahun.
4.
Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak
pertama wanita yang hanya anak pertama, setelah usia 30 tahun mempunyai resiko
2 x lipat dibanding dengan mereka yang punya anak sebelum 20 tahun.
5.
Menopause pada usia lanjut (>50 tahun).
6.
Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai
tumor payudara di sekitar perubahan epitel prliferasi mempunyai resiko 2 x
lipat untuk mengalami kanker payudara.
7.
Pemajanan terhadap wanita setelah masa pubertas dan
sebelum usia 30 tahun.
8.
Obesitas, resiko terendah diantara wanita pasca
menopause.
9.
Kontrasepsi oral.
10.
Therapi pengganti hormon.
Terdapat laporan yang
membingungkan tentang resiko kanker payudara pada terapi pengganti hormon.
Wanita yang menggunakan estrogen suplemen dalam jangka panjang mengalami
peningkatan resiko. Sementara penambahan progesteron terhadap pengganti
estrogen meningkatkan insiden kanker endometrium. Hal ini tidak menurunkan
resiko kanker payudara.
11.
Masukan alkohol
Sedikit peningkatan
resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alkohol, bahkan hanya dengan
sekali minum dalam sehari. Resiko 2 x lipat diantara wanita yang minum
alkohol 3 x/sehari.
Temuan riset menunjukkan wanita muda
minum alkohol lebih rentan mengalami kanker payudara (Brunner & Suddarth,
Danielle Gale).
C.
Tahapan Kanker Payudara
Tahapan klinik yang
paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah sistem klasifikasi TNM yang mengevaluasi ukuran
tumor, nodus limfe yang terkena dan bukti adanya metastasis yang jauh. Sistem
TNM diadaptasi oleh The America Joint Committee on Cancer Staging and Resuid
Reformating. Pertahapan ini didasarkan pada fisiologi memberikan prognosis yang
lebih akurat, tahap-tahapnya adalah sebagai berikut :
Tahap I :
tumor kurang dari 2 cm, tidak mengalami
nodus
Tahap II : tumor
yang lebih besar dari 2 cm, kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe terfiksasi
negatif/positif. Tidak terdeteksi metastasis
Tahap III : tumor
> 5 cm atau tumor dengan sembarang tempat yang menginvasi kulit/dinding,
nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, tanpa bukti metastasit
Tahap IV : terdiri
atas tumor dalam sembarang ukuran dengan nodus limfe normal/kankerlosa dan
metastase janin
D.
Tipe Kanker Payudara
1.
Karsinoma duktal, menginfiltrasi.
Tipe paling umum (75%) bermetastasis di nodus axila, perognosa buruk.
2.
Karsinoma lobuler menginfiltrasi (5-10%)
Terjadi
penebalan pada salah satu/2 payudara bisa menyebar ke tulang, paru, hepar,
otak.
3.
Karsinoma medular (60%)
Tumor dalam capsul, dalam duktus, dapat jadi besar, tapi meluasnya
lambat.
4.
Kanker musinus (3%), menghasilkan lendir, tumbuh
lambat, prognosis lebih baik.
5.
Kanker duktus tubulen (2%)
6.
Karsinoma inflamatom (1-2%) : jarang terjadi, gejala
berbeda nyeri tekan dan sangat nyeri, payudara membesar dan keras, edema,
retraksi puting susu, cepat berkembang
(Brunner &
Suddart).
E.
Tanda dan Gejala Kanker Payudara
1.
Fase awal : asimtomatik
2.
Tanda umum : benjolan/penebalan pada payudara
3.
Tanda dan gejala lanjut : kulit cekung
-
Retraksi/deviasi puting susu
-
Nyeri tekan/raba
-
Kulit tebal dan pori-pori menonjol seperti kulit jeruk
-
Ulserasi pada payudara.
- Tanda metastase : nyeri pada bahu, pinggang, punggung bawah
-
Batuk menetap
-
Anoreksia
-
BB turun
-
Gangguan pencernaan
-
Kabur
-
Sakit kepala
F. Pemeriksaan Diagnostik
1.
Monografi
Menemukan kanker insito yang kecil yang tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik.
2.
SCAN (CT, MRI, galfum), ultra sound.
Untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, respon pengobatan
3.
Biopsi (aspirasi, eksisi)
Untuk diagnosis banding dan menggambarkan pengobatan
4.
Penanda tumor
Zat yang dihasilkan dan disekresi oleh dalam serum (alfa feto protein,
HCG asam fosfat).
-
Dapat menambah dalam mendiagnosis kanker tetapi lebih
bermanfaat sebagai prognosis/monitor terapeutik.
-
Reseptor estrogen/progesteron assay yang dilakukan pada
jaringan payudara untuk memberikan informasi tentang manipulasi hormonal.
- Tes skrining kimia : elektrolit, tes hepar, hitung sel darah.
- Foto toraks
- USG
G.
Pathways Kanker Payudara
H. Penatalaksanaan
Ada 3 kombinasi
-
Pembedahan
-
Kemoterapi
-
Radiasi
1.
Pembedahan
Biopsi biasanya jenis
pemebedahan pertama bagi seorang wanita dengan kanker payudara.
Tujuannya
adalah menentukan bila ada masa malignasi dan untuk mengetahui jenis kanker
payudara, ada 2 prosedur :
a.
Prosedur satu tahap
Anestesi umum dengan
potongan beku cepat, bila potongan memperlihatkan malignasi, ahli bedah
melakukan mastektomi.
b.
Prosedur 2 tahap : -
biopsi dengan anestesi lokal
-
klien dipulangkan
2.
Terapi Radiasi
Untuk
pengobatan tahap 1 & 2
Keuntungan
: kontrol tumor lokal/pemeliharaan payudara
Efek : Reaksi kulit
Fraktur tulang kosta
Pneumonitis
Limfodema
3.
Kemoterapi
a.
Cara pemberian obat sitostatika dapati dilakukan secara
:
1)
Per Oral (PO)
2)
Sub Cutan (SC)
3)
Intra Muskuler (IM)
4)
Intra Arteri (IA)
5)
Intra Vena (IV)
6)
Intra Thecal (lewat fs. lumbal)
7)
Intra peritongal (pleural)
b.
Pemilihan vena dan tempat penusukan
1)
Kemoterapi dapat membuat iritasi pada vena dan jaringan
lunak
2)
Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam (3 hari)
3)
Vena yang cocok untuk penusukan terasa halus, lembut,
cukup besar (jangan vena yang menonjol dan keras)
4)
Vena yang baik dan sering digunakan : basilic,
chepalic, metacarpal.
c.
Persiapan kemoterapi
1)
Ukur BB, TB, luas badan, darah lengkap, FS. Ginjal, Fs.
Liver, gula darah urine lengkap, EKG, Thorax Ap/lat, ECSW, BMP.
2)
Periksa program terapi yang digunakan, waktu pemberian
obat sebelumnya.
3)
Periksa nama klien, dosis obat, jenis obat, cara
pemberian obat.
4)
Periksa informed concent (klien dan keluarga)
5)
Siapkan obat sitostatika.
6)
Siapkan cairan Na (L 0,9%, MA 5% atau intralit)
7)
Pengalas plastik, kain
8)
Gaun lengan dengan panjang, masker, topi, kacamata,
sarung tangan, sepatu.
9)
Spuit dispossible 5cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.
10) Set
infus dan cateter kecil (ababat)
11) Alkohol
70% + kapasitas steril (suatu alkohol).
12) Bak
spuit besar
13) Lebel
obat
14) Pastik
(pembuang bekas)
15) Kardex
(catatan khusus)
d.
Cara kerja :
1)
Semua obat dicampur oleh staf farmasi (ahli), kemudian
ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup. Perawat menerima dengan
catatan : (nama klien, jenis obat, dosis obat dan jam pencampuran).
2)
Atau pencampuran dilakukan di ruang khusus tertutup.
-
Meja dialasi pengalas plastik dan kain.
-
Pakai gaun
lengan panjang, topi, masker, kacamata dan sepatu
-
Ambil obat sitostatika SSI program, larutkan dengan
NaCl 0,9%, Dextrose 5% atau intralit dan pastikan obat cukup.
-
Masukkan obat ke dalam flabot NaCl 0,9% atau dextrose
5%.
-
Jaga jangan sampai tumpah.
-
Buat label (nama klien, jenis obat, tanggal, jam
pemberian, akhir pemberian).
-
Masukkan dalam kontrinen yang telah disediakan
-
Masukkan sampai pada kantong khusus (plastik).
e.
Cara pemberian :
1)
Periksa : nama klien, jenis obat, dosis, banyaknya
cairan, cara pemberian, waktu pemberian.
2)
Pakai proteksi
3)
Lakukan teknik aseptik dan antiseptik
4)
Pasang pengalas dan kain.
5)
Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian kemoterapi
6)
Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9%
7)
Berikan obat kanker pelan-pelan.
8)
Bila selesai bilas dengan NaCl 0,9%.
9)
Semua alat habis pakai masuk kantong plastik.
10) Buka
kain proteksi, masukkan plastik.
11) Catat
semua prosedur.
12) Awasi
keadaan kline per ½ jam.
|
f.
Diagnosa keperawatan
1.
Nyeri berhubungan dengan pembedahan
Tanda : S : Trauma
pembedahan
O : nadi, respirasi, akpasi
wajah tegang, kesakitan.
Tujuan :
Meredakan nyeri.
Intervensi :
Kaji skalanya
-
Tinggikan lengan yang sakit dari siku (bahu)
-
Hindari pengukuran TD, infeksi, pengambilan darah di
daerah yang sakit.
-
Anjurkan latihan aktif dan pasif pada lengan sakit.
2.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi
pembedahan dan efek radiasi.
Tanda : S :
O : Pengangkatan jaringan
-
Neting ada
-
Perubahan elastisitas kulit
Tujuan :
Mempertahankan integritas kulit
Intervensi :
Observasi daerah operasi
-
Inspeksi jumlah perdarahan, warna kulit
-
Lakukan ganti balut tiap hari
-
Jelaskan pada klien sensasi menurun pada area operatif
-
Jelaskan pada klien tanda-tanda infeksi.
3.
Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan mastektomi dan
efek samping radiasi dan kemoterapi.
Terapi : S
: Klien
mengekspresikan perasaan malu/minder
O : Kehilangan payudara
-
Bentuk tubuh yang tidak bagus.
Intervensi : Berikan support pada klien
untuk melihat insisi pembedahan
-
Fasilitas sistem pendukung keluarga (pasangan/keluarga)
klien.
-
Jawab pertanyaan klien dan dampak yang diharapkan atas
gaya hidup.
-
Evaluasi perasaan klien mengenal hilangnya payudara
identitas seksual, hubungan citra tubuh.
-
Berikan kesempatan pada klien rasa berduka cita atas
kehilangan payudara.
-
Izinkan klien untuk mengungkapkan emusi negatif
(marah).
-
Anjurkan pada klien untuk komunikasi terbuka klien
dengan keluarga.
-
Anjurkan klien untuk mengunjungi klien lain yang
mempunyai penyakit yang sama, dengan kemampuan koping yang baik.
4.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan efek
kemoterapi, radiasi.
Tanda : S :
O : Mual, muntah
-
Adanya stomatitis, diare
-
Anoreksia, BB ¯
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi : Kaji riwayat BB dulu dan pemasukan makan
-
Diskusikan antara pemasukan dan penurunan BB
-
Berikan teknik untuk mengatasi mual
-
Observasi adanya distensi abdomen
-
Sajikan makanan sesuai selera klien.
-
Kolaborasi antiemetik.
DAFTAR PUSTAKA
Gale,
Danielle, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, Jakarta.
Brunner
& Suddart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8,
volume 2, Jakarta, EGC.
Doengoes,
(2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.
Price,
Anderson (1995), Patofisiologi Proses Penyakit, Edisi 4, Buku Kedua,
Jakarta, EGC.
Simposium
Keperawatan, (2003), Kemoterapi, Semarang.

0 komentar:
Poskan Komentar